Sesungguhnya keberadaan pemimpin diantara kamu berhak untuk kamu jaga kehormatan dirinya. Apa dasar dari kita berhak untuk menjaga kehormatan tersebut : Sesungguhnya Rasulullah SAW telah menekankan kepada kita untuk menghormati pemimpin dan melarang untuk mencelanya, beliau bersada :
“Para penguasa adalah naungan Allah dimuka bumi. Barangsiapa yang memuliakan penguasa, Allah akan memuliakannya. Barang siapa menghina penguasa, Allah akan menghinakannya”(HR. Al-Baihaqi, 17/6, Ibnu Abi Ashim, dalam As-Sunnah 2/698. Lihat Ash-Shahihah, 5/376.)
‘Abbdulah bin al-Mubarak berkata, “Barangsiapa meremehkan ulama maka akhiratnya hancur, dan barangsiapa meremehkan pemimpin maka dunianya akan hancur.” (Dikeluarga Abu ‘Abdirrahman as-Sulami, dalam Adab Suhbah, 41 dan Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq, 32/444.) Kalau mencela dan menggunjing sesama muslim secara umum saja dilarang, lantas bagaimana mencela ulama dan umara? Tentu lebih dahsyat, karena efek yang ditimbulkan jauh lebih besar, sebab jika sesorang pemimpin telah dibenci oleh rakyatnya, maka akan hilang wibawanya di hati mereka. Dan bila itu terjadi, maka yang akan terjadi adalah kerusakan, pemberontakan dan kekacauan. Semoga Allah merahmati Abbdulah bin ‘Ukaim tatkala mengatakan tentang fitnah zaman khalifah Utsman, “Saya menilai bahwa menyebutkan kejelekannya adalah kunci untuk menumpahkan darahnya.” (Dikeluarkan Ibnu Sa’ad, 6/115, Al-Fasawi dalam Al-Ma’rifah wa Tarikh, 1/213.)
Subhanallah, begitu tingginya kita untuk menjaga kehormatan diri seorang muslim apalagi Ulama dan Umara. Di akhir zaman ini dimana kemerosotan moral dan akhlak begitu sangat memilukan, sulit sekali kita melihat seorang muslim yang berusaha untuk menjaga kehormatan diri mereka. Kita terkadang sibuk untuk mencari kesalahan-kesalahan pada diri mereka tetapi kita tidak pernah sibuk untuk mencari kesalahan/kekurangan pada diri kita sendiri dan kita berusaha untuk memperbaiki diri kita sendiri. Apakah kita hanya bisa mencela tetapi tidak mampu memperbaiki ? Seorang muslim dia tidak hanya cukup menjadi muslim yang “mukmin” (yang baik untuk dirinya) tetapi dia berusaha untuk menjadi seorang muslim yang “muslih” (yang baik untuk dirinya dan dapat memperbaiki orang lain). Kita semua berharap semoga kita kelak menjadi pribadi-pribadi muslim yang muslih yang mana dia baik untuk dirinya tetapi juga bisa memperbaiki keadaan yang rusak, bukan malah menambah kerusakan yang telah ada ditengah masyarakatnya. Selamat berjuang saudaraku, semoga Allah memperbaiki diri kita dengan kita memperbaiki hubungan kita dengan Allah.
Sumber :
“Demonstrasi Solusi atau Polusi” karya Abu Ubaidah Yusuf Bin Mukhtar As-Sidawi