TIGA HAL YANG SELALU DIINGAT AUDIENS (3 V’s)

2007 Juli 5
by Ismed Daulay

Seorang manager level menengah dari suatu perusahaan multi nasional sudah
beberapa hari ini sulit tidur dan selalu gelisah. Pasalnya, minggu depan dia
harus membawakan atau memberikan presentasi dalam rapat umum yang mana
nantinya akan dihadiri oleh para top executive dan owner dari perusahaan
tempatnya bekerja. Setiap waktu sang manager ini mengutak-utik materi bahan
yang akan diberikan dalam rapat nanti. Susunan kata, jenis huruf, tampilan
gambar, diagram, chart, dan warna yang ada pada media yang akan digunakan
dalam presentasi itu selalu saja dianggap kurang. Selalu saja tidak pas.
Bagi sang Manager, materi adalah hal yang paling berpengaruh dalam
berhasilnya presentasi yang akan dibawakan. Apakah ini benar ?! bahwa materi
is everything on presentation ?!

Hal yang menimpa manager tadi sering juga menimpa kita ketika datang order
untuk tampil ke depan membawakan presentasi, memimpin suatu acara, atau
menjadi seorang MC. Tapi apakah betul materi kita yang merupakan first
attraction point (Pengalih Utama) kepada audiens kita? Dalam dunia public
speaking kita mengenal 3 V’s of Communicationnya Albert Mahrabian. V Apa
saja yang membuat audiens kita tertarik atau terkesima atau malah membuat
orang tertidur. Mari kita bahas hal ini satu persatu. V yang pertama adalah
Verbal, yang mana dalam V yang pertama ini merupakan rangkaian kata atau isi
dari materi yang akan kita bawakan. V yang berikutnya adalah Voice atau
suara yang kita keluarkan ketika kita berbicara. Dan V yang terakhir
merupakan singkatan dari Visual atau penampilan atau body language.

Menurut anda, V manakah yang merupakan V penyumbang persentase terbesar
dalam kesuksesan suatu presentasi ? dalam kelas yang saya sering bawakan,
banyak sekali atau hampir seluruhnya memilih V pertama (verbal) yang
mempunyai nilai lebih dari 50 persen! Ternyata dalam research yang
dilakukan, Verbal hanya menyumbang 7 persen! Bukankan itu sangat
mencengangkan ?! Ternyata metode atau cara persiapan dalam menghadapi
presentasi yang selama ini kita lakukan selama ini salah. First impression
kita terhadap audiens ternyata bukan berasal dari materi yang akan kita
sampaikan. V yang terakhir (Visual) lah yang menjadi barometer barhasil atau
tidaknya kita dalam mengambil perhatian audiens. Nilai untuk Visual adalah
55 persen, sedangkan untuk Voice sebesar 38 persen. Kenapa bisa begini ?

Sebelum kita masuk lebih dalam, ada hal yang kita perlu kita ketahui bersama
bahwa menurut penelitian, 60 % sampai dengan 70 % manusia berkomunikasi
dengan cara non verbal, artinya manusia berkomunikasi kebanyakan tidak
menggunakan mulut! Masa iya sih ?!! banyak orang yang merasa sangsi atau
bingung bahkan tidak percaya. Dalam hal ini saya sering memberikan contoh
film Charlie Chaplin yang tanpa suara itu. Kenapa film Charlie Chaplin bisa
menjadi film yang sangat populer pada jaman itu sedangkan film itu dibuat
tanpa suara ? atau kalau jaman sekarang saya sering mencontohkan film Mr.
Bean. Ada yang pernah mendengar Mr. Bean mengucapkan suatu kata atau kalimat
sederhana yang jelas ? Jawabannya tidak. Ternyata para pemirsa TV di rumah
sudah sangat mengerti dengan isi atau alur cerita dalam film itu lewat
tampak visual dari mimik dan body language dari para aktor layar kaca
tersebut.

V yang kedua yang akan kita bahas adalah Voice. Seberapa pentingnya kah
suara ini dalam hal menarik perhatian audiens ? Balik ke sekitar akhir
tahun 80 an, Saya pernah mendapati orang yang tinggal di rumah sedang
menangis tersedu-sedu di depan radio transistor. Dengan herannya saya
bertanya kenapa dia menangis. Dia bilang kalo tokoh kesayangannya dalam
sandiwara radio tersebut, Bhrama Kumbara hampir terbunuh. Saya Tanya ke dia,
apakah dia sudah pernah melihat si Bhrama Kumbara atau orang yang mengisi
suara untuk tokoh itu?, dijawab belum! Aneh bukan?! Hal ini menunjukkan kalo
Voice atau suara itu sangat berpengaruh terhadap audiens. Kadang dari suara
seseorang di Radio atau di telephone bisa membuat kita jadi jatuh hati tanpa
kita melihat wujud dari si pembicara. Padahal setelah bertemu langsung,
mungkin saja kita menyesal. Untuk hal ini ada ungkapan yang sering dikatakan
oleh teman saya “Indah Berita dari Rupa”. Hal ini membuktikan kalau bukan
hanya ada istilah fals dalam bernyanyi, tapi juga dalam hal berbicara.
Bagaimana supaya kita tidak fals ketika berbicara? Dalam TYPSS, kita melatih
para siswa supaya bisa “merdu” dalam berbicara melalui pemantapan dalam
Artikulasi, Nada, Tone, dan Volume.

Dari Visual dan Voice yang sudah kita bahas sebelumnya, apakah Verbal atau
isi materi kita jadi tidak penting? Setelah orang memperhatikan penampilan
atau body language kita, dan suara kita, barulah perhatian akan tertuju
kepada materi yang akan kita bawakan. Apabila mereka (audiens) tidak merasa
nyaman dengan Visual dan Voice kita, maka akan dapat sekali dipastikan
mereka akan cepat bosan dengan presentasikan yang kita bawakan. Contohnya,
dalam dunia pendidikan, kita mengenal ada dosen favorite dan ada dosen
killer. Saya sering bertanya kepada mahasiswa, apa yang membuat mereka
tertarik terhadap suatu pelajaran. Jawabnya pengajarnya. Saya dapat
simpulkan pada dasarnya seorang murid atau mahasiswa itu pertamanya bukan
tertarik pada mata pelajaran yang diambil, tapi lebih kearah suka kepada
siapa yang mengajarkannya. Atau lebih kepada orang yang mengajarkannya.
Jadi, ubahlah cara persiapan anda dalam menghadapi suatu presentasi.
Pertama-tama perhatikan penampilan dan Body language anda, kemudian tidak
lupa latihan olah vocal yang baik dan benar, serta siapkan materi anda
dengan matang, dan lakukan presentasi dengan tenang. Selamat mencoba!

Ditulis : Clint W Tetelepta


Satu Tanggapan leave one →
  1. 2007 Oktober 24
    miss sudirgo permalink

    waduh, TOP banget tulisannya pak Clint,
    secara emang saya udah ngebuktiin kualitasnya bapak ini,
    dosen saya di UPH. bener2 deh,
    kelasnya ga pernah ngebosenin, always fun gitu loh.
    oc, sukses terus ya pak.
    cheers.

Tinggalkan Balasan

Note: Anda dapat menggunakan XHTML dasar di komentar Anda. Alamat surel Anda tidak akan pernah dipublikasikan.

Berlangganan umpan komentar ini melalui RSS